Hidup adalah ruang tak berbatas bagi pencarian jati diri manusia
Hidup adalah sebuah jalan panjang, sepi, jauh dari hiruk-pikuk zaman
Dan kita berjalan sendiri di jalan yang panjang itu
Zaman hadir sebagai sebuah refleksi dari sebagian perjalanan hidup
Kegemerlapan, keceriaan, kemegahan, kebesaran tiap zaman selalu bercerita tentang sejarah manusia, sebuah perjalanan yang belum tuntas
Zaman kita, banyak orang berbicara tentang kapitalisme global, maraknya teknologi, terorisme, kekuasaan, tumbangnya sosialisme, krisis ekonomi, dan berjuta tema lain bergema disekitar kita
Riuh rendah kesenangan hadir pada hidup kita yang sepi, namun justru mereduksi diri
Perjalanan terhenti dan arahpun bercabang banyak, padahal tadinya hanya ada satu arah: ke depan
Tetapi ada orang-orang yang terus berjalan ke depan, sendirian
Dan mereka memiliki cita-cita, mimpi, dan harapan yang menunggu di depan sana
Ada keyakinan bahwa hidup adalah perjalanan panjang demi suatu tujuan, yaitu diri sendiri
Dan hidup tak lagi tereduksi kesenangan diri karena bahagia telah tergenggam walau tak kunjung pasti
Rabu, 03 Juni 2009
Apa yang Kuketahui Tentang Hidup?
Apa yang kuketahui tentang hidup? Tentang Tuhan? Tentang kebahagiaan? Tentang kepedihan? Tentang semua rasa?
Aku hanya tahu sedikit tentang hidup, tentang Tuhan, tentang merasa bahagia, tentang merasa pedih, dan tentang merasakan semua hal.
Hidup mengajarkan kepadaku tentang ketidakpastian. Bahwa tidak ada hal yang pasti di dunia ini kecuali kematian. Dan ditengah ketidakpastian yang mendaras itu, kita selalu ingin sesuatu menjadi pasti dan jelas bagi diri sendiri. Di tengah gurun ketidakpastian yang maha luas, banyak cita-cita dan harapan yang dipancangkan dengan berjuta pasak keyakinan.
Hidupku adalah oase ditengah padang pasir. Ia fatamorgana. Ia menjelma menggoreskan rasa pada hidupku yang tandus. Aku merasa bahagia, pedih, kecewa, marah, putus asa, dan segala macam rasa yang tercipta lewat sebuah totalitas pespektif: SEMPURNA.
Ditengah oase itu aku tahu Tuhan bersamaku. Selalu. Tetapi aku seringkali berpaling dan mencari Tuhan baru. Dan aku merindukan Tuhan lebih dari apa yang kusadari untuk lebih membuat sejuk oaseku.
Hidupku adalah sebuah kisah mengenai cita-cita dan harapan. Hidupku adalah sebuah perjuangan melawan diriku yang lain. Hidupku adalah karang yang selalu diterjang ombak. Tetapi aku tidak sekuat karang. Aku hanya mencoba menjadi kuat demi sesuatu hal yang tak kutahu pasti apa itu dimasa depan.
Hidupku adalah sebuah kegiatan berpikir tanpa akhir yang mengantarkan kepada berbagai pilihan yang harus kuambil untuk terus bertahan dan bersiap menerima konsekuensi di kemudian waktu.
Hidupku tidak selalu terpelitakan cahaya, melainkan seringkali gelap tak terhingga. Hidupku adalah sebuah persimpangan antara cahaya dan kegelapan. Hidupku adalah senja yang temaram diantara gelap dan terang. Hidupku adalah sebuah zona abu-abu.
Tetapi hidupku sempurna. Sangat sempurna.karena oaseku terisikan oleh segala saripati hidup dan pengalaman diri sendiri dan orang lain. Karena hidup yang kujalani adalah kenangan tentang rasa; rasa bahagia, rasa sedih, rasa marah, rasa kecewa, dan berjuta rasa lainnya. Karena disekitarku selalu ada orang-orang yang menyayangiku apa adanya, orang-orang yang ikut memberikan rasa pada hidupku yang tak tahu sampai kapan berakhir. Orang-orang paling hebat yang pernah kukenal. Karena hidupku adalahsebuah perjalanan spiritualku untuk memahami Tuhan yang kukenal selama hidup. Karena aku menikmati setiap detik kehidupanku. Dan itu semua adalah alasan yang membuat hidupku sempurna. Sangat sempurna,,,
Aku hanya tahu sedikit tentang hidup, tentang Tuhan, tentang merasa bahagia, tentang merasa pedih, dan tentang merasakan semua hal.
Hidup mengajarkan kepadaku tentang ketidakpastian. Bahwa tidak ada hal yang pasti di dunia ini kecuali kematian. Dan ditengah ketidakpastian yang mendaras itu, kita selalu ingin sesuatu menjadi pasti dan jelas bagi diri sendiri. Di tengah gurun ketidakpastian yang maha luas, banyak cita-cita dan harapan yang dipancangkan dengan berjuta pasak keyakinan.
Hidupku adalah oase ditengah padang pasir. Ia fatamorgana. Ia menjelma menggoreskan rasa pada hidupku yang tandus. Aku merasa bahagia, pedih, kecewa, marah, putus asa, dan segala macam rasa yang tercipta lewat sebuah totalitas pespektif: SEMPURNA.
Ditengah oase itu aku tahu Tuhan bersamaku. Selalu. Tetapi aku seringkali berpaling dan mencari Tuhan baru. Dan aku merindukan Tuhan lebih dari apa yang kusadari untuk lebih membuat sejuk oaseku.
Hidupku adalah sebuah kisah mengenai cita-cita dan harapan. Hidupku adalah sebuah perjuangan melawan diriku yang lain. Hidupku adalah karang yang selalu diterjang ombak. Tetapi aku tidak sekuat karang. Aku hanya mencoba menjadi kuat demi sesuatu hal yang tak kutahu pasti apa itu dimasa depan.
Hidupku adalah sebuah kegiatan berpikir tanpa akhir yang mengantarkan kepada berbagai pilihan yang harus kuambil untuk terus bertahan dan bersiap menerima konsekuensi di kemudian waktu.
Hidupku tidak selalu terpelitakan cahaya, melainkan seringkali gelap tak terhingga. Hidupku adalah sebuah persimpangan antara cahaya dan kegelapan. Hidupku adalah senja yang temaram diantara gelap dan terang. Hidupku adalah sebuah zona abu-abu.
Tetapi hidupku sempurna. Sangat sempurna.karena oaseku terisikan oleh segala saripati hidup dan pengalaman diri sendiri dan orang lain. Karena hidup yang kujalani adalah kenangan tentang rasa; rasa bahagia, rasa sedih, rasa marah, rasa kecewa, dan berjuta rasa lainnya. Karena disekitarku selalu ada orang-orang yang menyayangiku apa adanya, orang-orang yang ikut memberikan rasa pada hidupku yang tak tahu sampai kapan berakhir. Orang-orang paling hebat yang pernah kukenal. Karena hidupku adalahsebuah perjalanan spiritualku untuk memahami Tuhan yang kukenal selama hidup. Karena aku menikmati setiap detik kehidupanku. Dan itu semua adalah alasan yang membuat hidupku sempurna. Sangat sempurna,,,
Sabtu, 23 Mei 2009
B A H A G I A
Ada secercah bahagia diraut banyak orang
Tersimpan berjuta harap pada hidup yang kian mendesak tak tentu arah
Tetapi seraut senyum itu masih ada, tersimpan apik, tak rusak, tak lapuk dimakan pengalaman
Manusia adalah keunikan yang beraneka dan itu terlihat dari pilihan-pilihannya
Berbeda dan beragam tak dapat di tolak apalagi disangkal
Ia hadir begitu saja dan kita tidak pernah meminta sebelumnya
Selembar kartu undangan pernikahan menyiratkan sejumput bahagia yang terkonsepkan dan berhias harapan-harapan indah
Senang melihat wujud bahagia itu pada wajah-wajah yang tak kalah dari hidup yang terus menghimpit, atau mungkin tak terasa?
Tak apa, asal sejumput bahagia itu tersemai bagi mereka yang melihat dan merasakannya
Hidup tak selalu harus berkisar dengan kisah tragik ala Kierkegaard dan para pengikutnya
Hidup bagi sebagian orang adalah permasalahan mendasar dan sederhana
Hidup adalah sebuah tur yang harus dijalani begitu saja tanpa perlu bertanya kenapa, apa, kapan, atau bagaimana
Hidup sederhana dan tetap bahagia
Untuk mencapai pemahaman diri tak perlu sampai belajar filsafat secara serius, toh hidup perlahan mengajarkan itu
Untuk yang berbahagia, tersenyum, dan tertawa, nikmatilah...
Sebarkan benih itu pada sekitar sehingga padang tak lagi gersang dan jiwa tak lagi kering
Selamat untuk kebahagiaan yang terus tersemai
Tersimpan berjuta harap pada hidup yang kian mendesak tak tentu arah
Tetapi seraut senyum itu masih ada, tersimpan apik, tak rusak, tak lapuk dimakan pengalaman
Manusia adalah keunikan yang beraneka dan itu terlihat dari pilihan-pilihannya
Berbeda dan beragam tak dapat di tolak apalagi disangkal
Ia hadir begitu saja dan kita tidak pernah meminta sebelumnya
Selembar kartu undangan pernikahan menyiratkan sejumput bahagia yang terkonsepkan dan berhias harapan-harapan indah
Senang melihat wujud bahagia itu pada wajah-wajah yang tak kalah dari hidup yang terus menghimpit, atau mungkin tak terasa?
Tak apa, asal sejumput bahagia itu tersemai bagi mereka yang melihat dan merasakannya
Hidup tak selalu harus berkisar dengan kisah tragik ala Kierkegaard dan para pengikutnya
Hidup bagi sebagian orang adalah permasalahan mendasar dan sederhana
Hidup adalah sebuah tur yang harus dijalani begitu saja tanpa perlu bertanya kenapa, apa, kapan, atau bagaimana
Hidup sederhana dan tetap bahagia
Untuk mencapai pemahaman diri tak perlu sampai belajar filsafat secara serius, toh hidup perlahan mengajarkan itu
Untuk yang berbahagia, tersenyum, dan tertawa, nikmatilah...
Sebarkan benih itu pada sekitar sehingga padang tak lagi gersang dan jiwa tak lagi kering
Selamat untuk kebahagiaan yang terus tersemai
A(a)-K(k)-U(u)
Aku kehilangan aku di dalam AKU
Aku lemah, Aku hina, Aku bangsat
Aku anjing, Aku monyet, Aku,...
Aku tidak kenal aku lagi
Aku bukan AKU
Aku rendah!
Ya, memang Aku rendah sekali
aku AKU telah hilang entah kemana
Aku aku itu memang tak pernah ada sebelumnya
Tetapi AKU merasa sakit karena aku
Seolah-olah aku hilang atau dicuri entah bagaimana
Sakit sekali. SAKIT SEKALI!!!
Aku ingin aku kembali pada AKU agar AKU utuh kembali
Tapi bagaimana caranya?
Aku tidak tahu siapa Aku
Aku tidak mengerti tentang Aku
aku pasti bisa memahami Aku
Pasti bisa, karena aku adalah inti dari kesempurnaan AKU
Tapi aku telah hilang hingga Aku merasakan ada yang sungguh sakit amat dalam
aku, kemana aku?
Aku hampir sekarat
Dia, mungkin Dia tahu dimana aku?
Aku lemah, Aku hina, Aku bangsat
Aku anjing, Aku monyet, Aku,...
Aku tidak kenal aku lagi
Aku bukan AKU
Aku rendah!
Ya, memang Aku rendah sekali
aku AKU telah hilang entah kemana
Aku aku itu memang tak pernah ada sebelumnya
Tetapi AKU merasa sakit karena aku
Seolah-olah aku hilang atau dicuri entah bagaimana
Sakit sekali. SAKIT SEKALI!!!
Aku ingin aku kembali pada AKU agar AKU utuh kembali
Tapi bagaimana caranya?
Aku tidak tahu siapa Aku
Aku tidak mengerti tentang Aku
aku pasti bisa memahami Aku
Pasti bisa, karena aku adalah inti dari kesempurnaan AKU
Tapi aku telah hilang hingga Aku merasakan ada yang sungguh sakit amat dalam
aku, kemana aku?
Aku hampir sekarat
Dia, mungkin Dia tahu dimana aku?
Kamis, 07 Mei 2009
Teman I
Jembatan itu belum tercipta dan kita saling menyalahkan
Aku tentu tak ingin menyalahkan diriku sendiri dan aku merasa benar
Dan kukira kau pun begitu
Terlalu banyak emosi negatif
Aku hanya ingin mendengar apa yang ingin kudengar
Dan kukira kau pun begitu, teman
Tapi aku salah, aku sadari itu
Banyak syak wasangka mengalir mempengaruhi diriku
Dan aku merasa aku benar untuk beberapa alasan
Tetapi caraku salah
Aku tak segera menyelesaikannya, hanya membiarkannya
Dan aku semakin sakit hati
Tetapi hari ini aku mulai menguak kembali struktur kesadaranku
dan kujabarkan kini bahwa aku terlalu banyak berpikir tanpa memastikan
padamu apa yang sebenarnya kita alami
karena jembatan diantara kita tak tersusun dengan baik, karena telinga ini ditutup dan kita tidak saling mendengar satu sama lain
Atas semua hal yang terjadi, aku minta maaf, teman
Aku tentu tak ingin menyalahkan diriku sendiri dan aku merasa benar
Dan kukira kau pun begitu
Terlalu banyak emosi negatif
Aku hanya ingin mendengar apa yang ingin kudengar
Dan kukira kau pun begitu, teman
Tapi aku salah, aku sadari itu
Banyak syak wasangka mengalir mempengaruhi diriku
Dan aku merasa aku benar untuk beberapa alasan
Tetapi caraku salah
Aku tak segera menyelesaikannya, hanya membiarkannya
Dan aku semakin sakit hati
Tetapi hari ini aku mulai menguak kembali struktur kesadaranku
dan kujabarkan kini bahwa aku terlalu banyak berpikir tanpa memastikan
padamu apa yang sebenarnya kita alami
karena jembatan diantara kita tak tersusun dengan baik, karena telinga ini ditutup dan kita tidak saling mendengar satu sama lain
Atas semua hal yang terjadi, aku minta maaf, teman
Rabu, 22 April 2009
Ada dan Pengada
Aku ada di tiitik ini .
Tapi pengadaku menyebar sejauh relasi yang kulakukan dengan dunia sekitar
Aku bisa saja seorang fitri, tapi fitri itu bisa juga menjadi seorang anak dari orang tuanya, bisa juga menjadi seorang mahasiswi filsafat 2007, bisa juga menjadi seorang kakak dari Imbang, bisa juga menjadi salah seorang member filsafat dan psikologi transformatif di group yahoo!,,,
Fitri bisa menjadi siapa saja sejauh orang lain mengenalnya
Tetapi pertanyaannya adalah apakah fitri itu tahu siapa dirinya? Dirinya dalam arti "ada" tanpa "pengada"?
Jika fitri dipahami "ada" tanpa "pengada", apakah dia bisa hilang makna? Hilang identitas? Hilang ke-diri-annya?
Menjadi fitri di titik ini tidak jelas betul dirinya karena ia tidak menjadi "pengada" sekaligus. Dan saya bertanya pada diri saya sendiri,"Hendak seperti apakah saya tanpa "pengada" saya?"
Tapi kembali lagi pada "ada" fitri
Siapa dia dan hendak diartikan apa dia?
Terserah sajalah...
Tapi pengadaku menyebar sejauh relasi yang kulakukan dengan dunia sekitar
Aku bisa saja seorang fitri, tapi fitri itu bisa juga menjadi seorang anak dari orang tuanya, bisa juga menjadi seorang mahasiswi filsafat 2007, bisa juga menjadi seorang kakak dari Imbang, bisa juga menjadi salah seorang member filsafat dan psikologi transformatif di group yahoo!,,,
Fitri bisa menjadi siapa saja sejauh orang lain mengenalnya
Tetapi pertanyaannya adalah apakah fitri itu tahu siapa dirinya? Dirinya dalam arti "ada" tanpa "pengada"?
Jika fitri dipahami "ada" tanpa "pengada", apakah dia bisa hilang makna? Hilang identitas? Hilang ke-diri-annya?
Menjadi fitri di titik ini tidak jelas betul dirinya karena ia tidak menjadi "pengada" sekaligus. Dan saya bertanya pada diri saya sendiri,"Hendak seperti apakah saya tanpa "pengada" saya?"
Tapi kembali lagi pada "ada" fitri
Siapa dia dan hendak diartikan apa dia?
Terserah sajalah...
Rabu, 01 April 2009
Aku dalam sepotong Makrocosmos kehidupan
Aku adalah manusia. Siapa yang bisa menyangkalnya? Walaupun sejuta manusia lainnya bilang aku adalah anjing, aku adalah monyet, itu tidak akan merubah sustansiku sebagai seorang manusia. Terlebih manusia yang hidup.
Tetapi apa itu manusia? Segumpal daging dan darah, begitu? Tidak ada istimewanya? Manusia lain mencoba menafsirkan apa itu menjadi manusia. Aristoteles mengatakan manusia adalah binatang yang berakal budi dan seluruh manusia mengamini pernyataan tersebut. Tetapi apa yang istimewa dari menjadi manusia? Terlalu banyak hasrat, kataku. Semua proposisi yang mengagung-agungkan manusia hanyalah pembenaran bagi eksistensi manusia itu sendiri, tetapi kebenaran secara objektif itu sendiri tak melekat pada manusia yang ternyata hanyalah setitik tanda, sepotong bagian dari alam semesta. Kita tidak lebih mulia ataupun lebih hebat dari entitas lainnya.
Kita. Jika menyebut kata ganti orang tersebut apa yang terlintas dipikiranku adalah kata ganti tak sempurna. Kita telah kehilangan objek dan hampir kehilangan makna juga di era posmodern ini. Kita tidak lagi mengacu pada saya dan kamu bersama-sama dalam sesuatu. Kita kini hanyalah sebuah kata ganti metafisik. Kita mungkin masih dapat mewakili saya, tetapi belum tentu dengan kamu, karena saya tidak dapat memastikan kamu apakah kamu benar-benar sepaham dengan saya baik pikiran maupun tindakan. Kita tak lagi disatukan, kita adalah individu yang berlainan sekarang.
Salah satu keunikan manusia adalah ia ingin bahagia. Tetapi apa itu bahagia? Kenapa kebahagiaan menjadi penting bagi manusia?
Semua manusia ingin bahagia. Tetapi apa ukuran kebahagiaan itu? Buatku, bahagia itu tidak terbatas pada kuantitas memori ataupun kesenangan-kesenangan semu yang bisa menguap begitu saja. Kebahagiaan lebih dari pada semua itu. Kebahagiaan adalah sejauh manusia memberi makna pada hidupnya dan ia mengapresiasikannya, ia menikmatinya. Kebahagiaan adalah hal metafisik yang paling rasional. Ia tak berwujud tetapi ia ada karena manusia merasakannya. Tetapi apa itu merasakan kebahagiaan? Adakah yang bisa menjabarkan lewat bahasa? Aku keterbatasan bahasa! Bahasa mereduksi perasaan serta pikiran kita untuk mengemukakan sesuatu kepada manusia lain.
Dan aku melihat sekelilingku orang-orang tersenyum karena mendapat telepon dari orang terkasih, aku melihat seraut kedamaian di wajah seorang tua yang mendapat duduk di kereta ekonomi saat tidak begitu penuh penumpang, aku melihat tawa seorang anak bermain sendiri menjemput imajinasi didalam diri dan mulai meng-konstruksi jiwa, aku melihat canda diwajah mama dan adikku saat santai bersama, aku melihat senyum malu-malu dari seorang cacat yang tak lagi memiliki kedua kaki di stasiun Tebet sambil ia terkadang menjajakan koran dan melihatnya membuatku rindu dengan ayahku, aku melihat senyum diwajah temanku saat kami bercanda di payung kantin kampus karena lelucon lucu, aku melihat secercah wajah ceria saat seorang gadis mendapatkan baju yang telah lama diinginkannya, aku melihat senyuman sekelompok gadis remaja yang asyik membahas trend fashion di majalah, aku melihat nenek tua disampingku saat perjalan menuju kampus bertanya denganku ramah aku hendak turun dimana tetapi wajahnya kuyu dan pakaiannya lusuh, aku melihat seorang penjaja koran cilik di kampusku dan tersenyum menyapaku.
Tetapi apakah itu semua wujud dari perasaan bahagia? Senang? Manusia adalah makhluk yang begitu unik dan beragam. Mereka tersenyum dan tertawa merupakan partikel kecil dari apa yang mereka rasakan. Dan menurutku itu semua sudah lebih dari cukup ketimbang mengejar sesuatu yang lebih abstrak dan naif seperti kekuasaan, harta,jabatan, dan lain sebagainya. Tetapi manusia tentu tidak cukup puas hanya dengan hal-hal kecil. Aku, kamu, dia, dan mereka tentu punya keinginan, hasrat-hasrat kecil semacam itu. Tetapi apakah segala keinginan atau tujuan-tujuan dalam hidup adalah kebahagiaan yang sungguh-sungguh dicari manusia? Mengapa tidak dinikmati saja keseluruhan proses yang mengantarkan saya dan kamu mencapai tujuan? Mengapa kita tak berhenti sejenak dan melihat sekeliling bahwa ada banyak hal yang jauh lebih indah daripada sekedar obsesi? Bahwa terkadang tersenyum walau karena hal remeh asal itu tulus justru lebih menyejukkan jiwa dan membawa suasana riang? Bahwa seringkali kita tak sadar bahwa kita adalah bagian dari makrokosmos, bagian dari dunia yang fana ini?
Tetapi apa itu manusia? Segumpal daging dan darah, begitu? Tidak ada istimewanya? Manusia lain mencoba menafsirkan apa itu menjadi manusia. Aristoteles mengatakan manusia adalah binatang yang berakal budi dan seluruh manusia mengamini pernyataan tersebut. Tetapi apa yang istimewa dari menjadi manusia? Terlalu banyak hasrat, kataku. Semua proposisi yang mengagung-agungkan manusia hanyalah pembenaran bagi eksistensi manusia itu sendiri, tetapi kebenaran secara objektif itu sendiri tak melekat pada manusia yang ternyata hanyalah setitik tanda, sepotong bagian dari alam semesta. Kita tidak lebih mulia ataupun lebih hebat dari entitas lainnya.
Kita. Jika menyebut kata ganti orang tersebut apa yang terlintas dipikiranku adalah kata ganti tak sempurna. Kita telah kehilangan objek dan hampir kehilangan makna juga di era posmodern ini. Kita tidak lagi mengacu pada saya dan kamu bersama-sama dalam sesuatu. Kita kini hanyalah sebuah kata ganti metafisik. Kita mungkin masih dapat mewakili saya, tetapi belum tentu dengan kamu, karena saya tidak dapat memastikan kamu apakah kamu benar-benar sepaham dengan saya baik pikiran maupun tindakan. Kita tak lagi disatukan, kita adalah individu yang berlainan sekarang.
Salah satu keunikan manusia adalah ia ingin bahagia. Tetapi apa itu bahagia? Kenapa kebahagiaan menjadi penting bagi manusia?
Semua manusia ingin bahagia. Tetapi apa ukuran kebahagiaan itu? Buatku, bahagia itu tidak terbatas pada kuantitas memori ataupun kesenangan-kesenangan semu yang bisa menguap begitu saja. Kebahagiaan lebih dari pada semua itu. Kebahagiaan adalah sejauh manusia memberi makna pada hidupnya dan ia mengapresiasikannya, ia menikmatinya. Kebahagiaan adalah hal metafisik yang paling rasional. Ia tak berwujud tetapi ia ada karena manusia merasakannya. Tetapi apa itu merasakan kebahagiaan? Adakah yang bisa menjabarkan lewat bahasa? Aku keterbatasan bahasa! Bahasa mereduksi perasaan serta pikiran kita untuk mengemukakan sesuatu kepada manusia lain.
Dan aku melihat sekelilingku orang-orang tersenyum karena mendapat telepon dari orang terkasih, aku melihat seraut kedamaian di wajah seorang tua yang mendapat duduk di kereta ekonomi saat tidak begitu penuh penumpang, aku melihat tawa seorang anak bermain sendiri menjemput imajinasi didalam diri dan mulai meng-konstruksi jiwa, aku melihat canda diwajah mama dan adikku saat santai bersama, aku melihat senyum malu-malu dari seorang cacat yang tak lagi memiliki kedua kaki di stasiun Tebet sambil ia terkadang menjajakan koran dan melihatnya membuatku rindu dengan ayahku, aku melihat senyum diwajah temanku saat kami bercanda di payung kantin kampus karena lelucon lucu, aku melihat secercah wajah ceria saat seorang gadis mendapatkan baju yang telah lama diinginkannya, aku melihat senyuman sekelompok gadis remaja yang asyik membahas trend fashion di majalah, aku melihat nenek tua disampingku saat perjalan menuju kampus bertanya denganku ramah aku hendak turun dimana tetapi wajahnya kuyu dan pakaiannya lusuh, aku melihat seorang penjaja koran cilik di kampusku dan tersenyum menyapaku.
Tetapi apakah itu semua wujud dari perasaan bahagia? Senang? Manusia adalah makhluk yang begitu unik dan beragam. Mereka tersenyum dan tertawa merupakan partikel kecil dari apa yang mereka rasakan. Dan menurutku itu semua sudah lebih dari cukup ketimbang mengejar sesuatu yang lebih abstrak dan naif seperti kekuasaan, harta,jabatan, dan lain sebagainya. Tetapi manusia tentu tidak cukup puas hanya dengan hal-hal kecil. Aku, kamu, dia, dan mereka tentu punya keinginan, hasrat-hasrat kecil semacam itu. Tetapi apakah segala keinginan atau tujuan-tujuan dalam hidup adalah kebahagiaan yang sungguh-sungguh dicari manusia? Mengapa tidak dinikmati saja keseluruhan proses yang mengantarkan saya dan kamu mencapai tujuan? Mengapa kita tak berhenti sejenak dan melihat sekeliling bahwa ada banyak hal yang jauh lebih indah daripada sekedar obsesi? Bahwa terkadang tersenyum walau karena hal remeh asal itu tulus justru lebih menyejukkan jiwa dan membawa suasana riang? Bahwa seringkali kita tak sadar bahwa kita adalah bagian dari makrokosmos, bagian dari dunia yang fana ini?
Langganan:
Postingan (Atom)