Rabu, 01 September 2010

Khusus untuk Wanita

Khusus untuk wanita
Aku tak digerbongnya dalam laju menuju rumah,
melainkan ditempat biasa
Duduk sendiri dan biasa-biasa saja
Yang tak biasa adalah para misoginis,
mereka yang berpenis menatapku anomali
Sebagian terkikik geli,
bagai badut aku bagi mereka
Sebagian mencoba acuh dengan dahi berkerut sebal
Seorang lainnya menuntut mengapa aku tak disuruh berada bersama kaumku saja
Padahal aku perempuan

Ah, kalian yang memiliki penis
Bagiku tak ada yang luar biasa
Seringkali merasa jumawa kalau mendominasi
Khusus untuk wanita
Dipikir perempuan seperti saya tak boleh digerbong yang biasa
Padahal aku hanya ingin diperlakukan sama

Jumat, 27 Agustus 2010

Dalam Deru Campur Debu

Dalam deru
Campur debu,
kata Chairil
Tak sekedar itu
Ada asap dan polusi menguap saat hari hujan sore ini
Ringkikan mesin-mesin kendaraan membahana
hanya bikin penat
Berisik, memancing emosi

Dalam deru
campur debu
Tak sekedar itu
Waktu tak lagi sesuatu
Karena telah habis dimakan tunggu
Pak polisi sibuk merapikan baris
agar kendaraan segera tertib
dan tidak lagi saling impit

Dalam deru
campur debu
Tak sekedar itu
Padahal hujan seharusnya membikin sejuk
Tapi dalam bis-bis kota peluh lebih merajuk
dan semua orang menghirup racun

Dalam deru
campur debu
2010
Tak sekedar itu
Disekitaran Senen waktu berpacu sia-sia
Ditengah asap kendaraan, bising bunyi klakson,
polusi hasil mesin baja beroda,
penumpang bis kota yang bermandi peluh disaat hujan,
pak Polisi sibuk mengatur,
dan semua ikut melebur
Hancur!

Minggu, 25 Juli 2010

Menangkup Warna

Ayah, banyak warna di dunia ini
berkumparan bagai kunang-kunang
tetapi pelitanya lebih semarak
Banyak yang mesti diteguk saat berjumpa telaga
karena rasa air tak sekedar biasa
banyak yang tercecap lama dalam lidah
walau tak bertahan selamanya

Ayah, bahagia itu menyadari
menerima diri lebih dan kurang
dan melihat sekitar
Mereka bilang,"sesuatu baru berarti saat tak lagi ada"
Sebagian menyesal
Sisanya bersyukur
Beberapa mulai sadar dan berbenah diri

Ayah, kita tak selalu mampu meraba masa
menggenggam impian dan hilang begitu saja
Aku melihat banyak asap membumbung ke angkasa
dan rona mulai berpendar, redup
Di dunia ini banyak warna
menangkup segala rasa
luar biasa
Aku ternganga-nganga

Ayah, warna apa yang ingin kutangkup?
Warna apa yang harus kuteguk agar hidup tak lagi absurd?
Aku menyukai hijau tapi tak tahu harus apa
untuk memercikinya pada jalan yang terbentang dihadapanku

Ayah, katamu dulu jangan pernah menyerah
dan terus lihat arah
Di dunia ini banyak warna
Tapi mengapa kadang sulit, kadang bergairah?

Tetapi katamu,"tak apa-apa"
sambil tersenyum mengusap kepalaku
Aku tahu kau pun menyadari bahwa banyak warna di dunia ini, ayah
dan kau percaya padaku sepenuhnya untuk memilih warna yang kusuka

Rabu, 21 Juli 2010

MATI SEPI


(amos lee-colors)


mengapa waktu berjalan dalam iringan detik?
agar kau tak kehilangan setiap momen dalam hidupmu yang bias
mengapa harapan itu ada?
karena hidup tak selalu menyenangkan tiap detiknya sehingga kau butuh
harapan tentang satu momen yang membuatmu tersenyum dan bersemangat

dalam gelap aku termangu rindu
visiku cemerlang menatap waktu
dan aku merasa kasdu
betapa aku merindukan masa lalu

disela-sela malam aku melihat kematian dan perpisahan menjadi padu
tak pernah ku takut jika aku yang dipanggil lebih dulu
aku justru takut kehilangan waktu
aku rindu ayah, ibu, adik dan mereka yang kukasihi
aku takut tak dapat menyulam masa bersama mereka lagi
bukan karena mati
tidak sekedar mati
tetapi karena waktu yang berjalan ribut dan serampangan


mengapa Tuhan tak hadirkan abadi pada kita?
karena abadi tak membuat kita bersyukur
karena abadi berarti tak hidup
karena abadi membuat kita abai pada sekitar

Tuhan, aku tak takut mati melainkan waktu
untuk mereka yang kukenal, aku hanya ingin berkata
AKU SAYANG KALIAN

dalam hidup kita tumbuh dan mati
dan kehilangan banyak memori
aku rasa aku akan baik-baik saja
harus baik-baik saja
karena tiketku belum bergulir menuju mati

Senin, 28 Juni 2010

The Prestige: Terbuai dengan Alur



The Prestige merupakan film yang menarik dengan alur yang tak urut dan acak. Film ini secara singkat menceritakan tentang persaingan dua pesulap yang masing-masing berusaha saling menjatuhkan. Persoalan muncul ketika salah seorang diantara mereka memiliki suatu trik jitu yaitu dapat menggandakan diri pada saat yang bersamaan. Mulailah intrik untuk mencuri rahasia tersebut hingga mengantarkan pada keajaiban science. Hal yang menarik dari film ini karena dikemas dengan alur yang acak dan lompat-lompat. Sehingga ending dari cerita tersebut agak sulit ditebak.

Saya menyukai film-film semacam ini yang memerlukan tindak berpikir investigatif untuk mengetahui dan membaca keseluruhan cerita. Singkatnya saya senang membaca berbagai intrik yang tersaji dari suatu film untuk kemudian menyocokkannya dengan ending ceritanya. Hampir semua film yang memenuhi kualifikasi investigatif dapat saya baca alur dan endingnya. Seperti misalnya salah satu film Harrison Ford yang saya lupa judulnya, tetapi menceritakan tentang pembunuhan seorang pengacara wanita. Harrison Ford yang menjadi pengacara dan juga teman korban pembunuhan ini dituduh sebagai tersangka. Berbagai bukti yangada mengarah padanya. Ending film ini telah dapat saya tebak kelanjutannya ketika alur yang mengalir dalam film mulai menampakkan ketidaksesuaian dengan berbagai tesis yang coba dipertahankan oleh beberapa tokoh. Selain itu juga ada beberapa film seperti Prince of Persia, Edge of Darkness, The Bone colector, dan film-film lain yang saya lupa judulnya.

Apa yang menarik dari The Prestige bagi saya? Mungkin karena alurnya yang acak dan berlompat-lompatan membuat saya perlu untuk lebih memperhatikan jalinan cerita satu sama lain yang tak sama sehingga saya agak kesulitan pada awalnya untuk menebak apa yang kira-kira menjadi ending dari cerita tersebut maupun menebak trik apa yang kiranya digunakan si pesulap menggandakan dirinya.

Bagi siapapun yang menyenai pola pikir investigatif, The Prestige dapat menjadi rujukan yang bagus untuk mengasah kemampuan investigatif tersebut. Atau bagi yang ingin mencoba merasakan sensasi menonton film dengan menebak beberapa bagian didalamnya, film ini dapat menjadi rujukan yang bagus.

Minggu, 02 Mei 2010

Tanda Seru untuk Lingkungan dan Lapindo

Suatu pertunjukkan teatrikal hari ini di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta dalam rangka Konsultasi Publik JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) menarik perhatian saya. Santo Klingon, sang seniman dengan lumuran cat biru muda sekujur tubuh sambil membagi-bagikan beberapa cermin berukuran kecil kepada pengunjung yang menyaksikan pertunjukkannya berujar pelan dan penuh penekanan,"5 tahun lagi, 15 tahun,... tak masalah. Tak apa-apa"



Apa yang dimaksudkannya dalam bilangan tahun tersebut? Apa yang ditunggu dari 5 tahun, 15 tahun, bahkan 20 tahun lagi, Santo?


Saya pikir tentu penampilannnya berkaitan dengan tema konsultasi yang diselenggarakan JATAM yang memiliki konsentrasi pada pertambangan di Indonesia serta nasib masyarakat di sekitar lokasi. Mungkin juga berkaitan dengan dua buah karya seni instalasi yang dipajang sepanjang acara berlangsung yang dibuat oleh dua perupa IKJ dan UNJ.Instalasi yang satu menampakkan kerusakan lingkungan yang diakibatkan Newmont dengan membuang limbah mereka ke teluk yang ada disekitarnya dan mencemari ikan-ikan yang ironisnya dikonsumsi masyarakat setempat. Instalasi yang lainnya menggambarkan lumpur Lapindo dan kongkalikong antara pemerintah dan Bakrie coorporation.






Pasti menyindir Lapindo kan, Santo?? Karena kau lumuri tubuhmu dengan cat yang seperti lumpur. Tetapi saya tak mengerti penggunaan kaca pada penampilannya. Mungkin agar kita melihat diri kita dalam cermin dan memperbaiki diri kita yang ternyata sangat banyak salah ini?

Namun, Santo terburu menjawab pertanyaan saya dalam pertunjukkan keduanya. Ia memang menyindir Lapindo. Kaca yang dilumurinya pula oleh cat dan lumpur pada instalasi yang juga menyinggung Lapindo merupakan anekdot mengenai jin lumpur yang dilihat warga beberapa tahun yang lalu saat lumpur Lapindo pelan-pelan menggerus pemukiman mereka. Sang Jin berseru lantang,"Bukan aku yang harusnya mandi dan berbersih diri, melainkan kalian semua yang harus mandi dan membersihkan diri sendiri."






Rabu, 28 April 2010

Membaca Malam





Pada malam aku membaca suatu risalah kematian

Pekatnya yang tergradasi oleh langit kelam

terterangi oleh bulan yang memancar penuh dengan lapisan halo disekelilingnya

sewarna pelangi

Kisahnya ditulis dengan tinta beraroma busuk dan bau tanah basah


Pada malam aku membaca kematian yang indah dan syahdu

Aku merasa sendu dan terharu ditengah malam berjalan sendiri menatap malam

Seolah malam menunjukkan hidup yang kujalani dan kematian yang harus kulewati


Kematian yang begitu indah dan membuat takjub

Yang memberi kesadaran bahwa ternyata kisahku tak banyak orang ingin tahu

Aku tak dikenali siapa-siapa

Aku tak dapat berkata-kata dan aku menemukan kematian yang erotis dalam senandung

berisiknya bising kendaraan





Banyak yang kusembunykan dari siang

Dalam cengkeraman siang dan matahari yang menyilaukan

Berbanyak dari kalian menuntutku pada batas yang tak kalian mengerti dan tak ingin

kalian ketahui

Pada siang hidup hanya sekedar perlombaan menuju finish yang tak kunjung jelas

Apa yang ingin didengar, dilihat, dirasa pada diriku hanyalah sebatas kelambu yang

koyak tak bersisa

Kalian hanya mengetahui apa yang ingin diketahui dariku


Tetapi aku adalah titah malam

tlah lama kubergumul didalamnya

karena pada malam aku dapat bercerita sesungguhnya tentang diriku


Aku membaca risalah tentang malam pada selembar langit bertabur bintang

Aku membaca tentang kematianku

Bahwa aku ingin mati dan merasa damai dalam malam